Thursday, September 2, 2021

6 Syarat Mencari Ilmu menurut Kitab Alala

Baca Juga

     
Sejak kita terlahir ke alam dunia ini, kita tak mempunyai bekal apapun selain isakan tangis semata. Seiring dengan berputarnya waktu dari proses apa yang kita dengar dan lihat di sekitar lingkungan tempat tinggal mengalami berbagai macam kejadian dan fenomena. Dari hal tersebut kita mencoba memikirkan dan mencari tahu penyebab atau kenapa hal itu bisa terjadi inilah pengertian sederhana ilmu. Kewajiban untuk mencari ilmu telah jelas sebagaimana hadits Nabi SAW.

Bahwasannya mencari ilmu itu wajib bagi semua orang dari mulai ia dilahirkan hingga masuk ke liang lahat. Itu artinya selama manusia masih diberi kekuatan untuk bernafas selama itu pula kewajiban kita dalam menuntu ilmu tak pernah lepas mengikat. Semakin kita berilmu maka semakin merasakan pula bahwa masih banyak ilmu yang belum dipelajari, hal ini menegaskan sangat disayangkan bagi seorang manusia yang sudah diberi akal namun tidak memanfaatkannya untuk mencari ilmu.

  Jika yang terjadi sepertiitu lalu apa bedanya dengan binatang. Tentunya ilmu yang kita cari adalah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang dengan ilmu itu kita menjadi dekat dengan Allah SWT (tunduk pada aturan) dan semakin merasakan kehinaan dalam diri seorang hamba, bukan malah menjadikan diri sombong dan berbuat semena-mena.

 Dalam menggapai ilmu yang bermanfaat sebagaimana syair di atas ada tuntutan yang harus dipenuhi (syarat) jika ingin meraih ilmu yang didambakan, 6 syarat mencari ilmu menurut kitab Alala adalah :

Syarat mencari ilmu

1. Cerdas  

    artinya kemampuan untuk menangkap ilmu, bukan berarti IQ harus tinggi, walaupun dalam mencari ilmu IQ yang tinggi sangat menentukan sekali, asal akalnya mampu menangkap ilmu maka berarti sudah memenuhi syarat pertama ini, berbeda dengan orang gila atau orang yang idiot yang memang akalnya sudah tidak bisa menerima ilmu maka sulitlah mereka mendapatkan ilmu manfaat.

  Namun perlu diingat bahwa kecerdasan adalah bukan sesuatu yang tidak bisa meningkat, sebagaimana ungkapan “akal adalah laksana pedang” semakin sering di asah dan di pergunakan maka pedang akan semakin mengkilat dan tajam, adapun bila didiamkan maka akan karatan dan tumpul. begitupula akal kita semakin sering dibuat untuk berfikir dan mengaji maka akal kita akan semakin tajam daya tangkapnya dan bila di biarkan maka tumpul tidak akan mampu menerima ilmu apapun juga. Dari hal ini juga bisa dipahami jangan merendahkan orang lain yang kemampuan menyerap ilmunya lebih rendah dari kita, sebaliknya sikap peduli dan membantu teman adalah hal yang seharusnya dilakukan. Karena bisa saja dikemudian hari seseorang itu malah lebih unggul dari kita.

2. Semangat

    Artinya sungguh-sungguh dengan bukti ketekunan, mencari ilmu tanpa kesemangatan dan ketekunan tidak akan menghasilkan apa-apa. Terlebih ilmu agama merupakan ilmu yang mulia dan ilmu itu juga menjadi kebutuhan individu bagi umat islam dalam melaksanakan segala syariat. Sehingga banyak orang yang mencari tetapi apabila tidak diiringan dengan semangat maka ilmu yang didambakan akan sulit untuk digapainya.

  Contoh sederhana, apa yang kemarin di hafalkan belum tentu sekarang masih bisa hafal/tahu, padahal apa yang di hafal /tahu kemarin masih berhubungan dengan pelajaran hari ini, akhirnya pelajaran hari ini pun berantakan karena hilangnya pelajaran kemarin (mengulang pelajaran yang sudah disampaikan), maka tanpa kesemangatan dan ketekunan sangat sulit kita mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan dalam menuntut ilmu.

3. Sabar

    Artinya tabah menghadapi cobaan dan ujian dalam mencari ilmu. Orang yang mencari ilmu adalah orang yang mencari jalan lurus menuju pencipta-Nya. Oleh karena itu, syetan sangat membenci dan senantiasa mengganggu pada pencari ilmu, karena dengan tidak ada orang yang mengajak kepada kebaikan dan menjauhi maksiat (Amar ma’ruf nahi munkar), maka nantinya semakin banyak umat islam yang terbujuk dengan rayuan syetan yang menyesatkan.

  Hal ini terbukti dengan memakai lama waktu yang sama. dalam melakukan ibadah seperti sholat, mengaji dll. akan terasa lama dan berat dilakukan sementara kegiatan yang di luar ibadah akan terasa singkat dan menimbulkan kenyamanan.

4. Biaya 

    Artinya orang yang menuntut ilmu memang perlu biaya seperti juga setiap manusia hidup yang memerlukannya, tapi jangan dipahami harus punya uang apalagi uang yang banyak. Biaya disini mencakup kebutuhan kita makan minum sandang dan papan secukupnya dan biaya tempat dimana kita menimba ilmu. Dalam sejarah kepesantrenan dari zaman sahabat nabi sampai zaman ulama terkemuka kebanyakan para santrinya adalah orang-orang yang tidak mampu seperti Abu hurairoh sahabat Nabi seorang perawi hadist terbanyak adalah orang yang sangat fakir.

  Selain itu, Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bercerita : “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya (guru) hadits atau pelajaran, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis diatasnya. Apabila sudah penuh tulisanya, saya menaruhnya didalam guci/botol besar yang sudah tua.” [Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/98), Ibnu Abdil Baar]

5. Petunjuk guru 

    Artinya orang menuntut ilmu harus mempunyai guru, karena dengan mempunyai ilmu akan terbebas dari kesalahan penafsiran. Seyogianya dalam mempelajari ilmu agama mempunyai sanad (pertalian murid dan guru), andai tidak ada sanad maka orang yang berkata (tentang agama) sekehendak hatinya. Kita bisa melihat sejarah penurunan wahyu dan penyampaiannya kepada para sahabat, betapa Nabi setiap bulan puasa menyimakkan Al- Qur’an kepada jibril dan sebaliknya, kemudian Nabi menyampaikan kepada para sahabat, sahabat menyampaikan kepada para tabi’in, lalu para tabi’in menyampaikan pada tabi’i at-tabi’in dan seterusnya kepada ulama salaf,lalu ulama kholaf, lalu ulama mutaqoddimin lalu ulama muta’akhirin dan seterusnya sampai pada umat sekarang ini, jadi ilmu yang kita terima sekarang ini adalah ilmu yang bersambung sampai Nabi dan sampai kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jadi sangat jelas sekali bahwa orang yang belajar harus lewat bimbingan seorang guru.

  Guru yang bisa menunjukkan apa yang dikehendaki oleh sebuah pernyataan dalam sebuah ayat atau hadis atau ibarat kitab salaf, karena tidak semua yang tersurat mencerminkan apa yang tersirat dalam pernyatan. Dari hal yang sudah dipaparkan tadi tidak berarti menutup kemungkinan untuk belajar secara otodidak (mandiri) hanya saja di era globalisasi yang semakin banyak informasi yang malang melintang kita dituntut untuk jangan terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum mengecek informasi itu. Ironis memang jika ada sebagian yang bermodal mencari info mbah google beberapa menit namun langsung berani memberikan fatwa.

6. Lama 

    Artinya orang belajar perlu waktu yang lama dan mempunyai target, karena tanpa target akan hampa dan malaslah kita belajar. Setelah kita menggapai apa yang kita targetkan pun tak lantas berhenti. Karena semakin banyak ilmu yang dipahami maka akan lebih banyak ilmu yang belum dipahami, itu artinya tidak ada kata berhenti belajar selama hayat masih di kandung badan. Dari Al-Mu’afa bin Zakaria Rahimahullah dari sebagian orang yang terpercaya bahwa beliau berada disamping Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath- Thabari Rahimahullah sesaat sebelum beliau wafat. Ibnu Jarir diingatkan dengan sebuah doa dari Ja’far bin Muhammad Rahimahullah.

 Beliau meminta pena dan kertas kemudian menulis doa tersebut. Beliau ditanya : “Wahai Imam, apakah anda masih menulis ilmu dalam keadaan seperti ini–yakni dalam keadaan sakaratul maut-?” Beliau –Ibnu Jarir- menjawab : “Seharusnya seseorang tidak meninggalkan mencari ilmu sampai ia mati.” [Kunuzul Ajdad, Muhammad Kurdi Ali]

  Dalam menjalankan 6 syarat di atas, jangan lupa ketika kita menuntut ilmu wajib niat sewaktu belajar, sebab niat itu merupakan pokok dalam segala perbuatan. Sebagaimana hadits Nabi “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung amalnya”. Niat juga berpengaruh pada amal yang akan dilakukan karena berdasarkan hadist nabi disebutkan “Banyak amal perbuatan yang bentuknya duniawi, kemudian menjadi amal ukhrawi karena bagus niatnya, dan tidak sedikit amal perbuatan yang bentuknya amal ukhrowi, kemudian menjadi perbuatan duniawi sebab buruknya niatnya”


sumber : Kitab Alala Online

No comments:

Post a Comment